Si Makhluk Jelek

Begitu aku memarkir motorku di halaman, aku baru sadar betapa gelapnya gedung tersebut. Mengingatkanku akan teman-teman yang takut akan gelap, ingat bagaimana (menurutku) konyol dan lucunya mereka ketika mereka ketakutan saat listrik padam.

Aku melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Aku kira pintunya terkunci, tapi rupanya tidak. Sensornya mendeteksi kedatanganku dan pintu kaca itu terbuka otomatis. Di saat itulah aku melihat sesuatu yang kelewat jelas untuk dilewatkan dari sudut mataku.Read More »

Advertisements

Pria Berukuran Queen

Ditulis 18 Maret 2015, setelah membentangkan sprei putih berukuran queen. Dipublikasikan kembali dengan sedikit suntingan.

Tuhan memiliki banyak tentara pribadi bernama malaikat. Setiap malaikat memiliki tugas masing-masing. Ada yang bertugas berkelana sembari mencabuti jiwa manusia yang sudah saatnya meninggalkan dunia, ada yang sibuk mencatat dosa-dosa, bahkan ada yang sekedar memperhatikan tingkah laku mereka.

Di bumi, ada milyaran manusia yang memanjatkan doa kepada Tuhan. Para malaikat pun diam-diam akan mencatat doa itu, kemudian menyampaikannya kepada Tuhan. Di antara doa-doa tersebut terkadang ada doa menarik terselip, sanggup membuat malaikat memberikan perhatiannya.

Setiap hari, sebelum tidur, gadis ini selalu memanjatkan doa yang sama sembari menengadahkan tangan.

“Tuhan, aku ingin seorang pria yang bisa menjadi pasangan hidupku.”Read More »

Cerita Mimpi #1

Thriller, fantasy, a part of my dream.

Pintu didobrak, keras sekali.

Perintah dikeluarkan, suara bersahut-sahutan menyampaikan perintah ke mereka yang berada di belakang, tiga dari kami melangkahi pintu yang sudah rubuh.

Kami dihadiahi dengan tubuh telanjang penuh luka tusukan di atas tempat tidur. It wasn’t pretty.

Blood was scattered everywhere—the white sheet was tainted with the red color. I gulped, knowing this was worse than we initially thought. There was this unbearable, familiar smell lingering around the room. The body didn’t seem to start decomposing, but we couldn’t find anything. YetRead More »

Less Waste #1: The Dust Bags

Setelah dua tahun belakangan selalu membawa tas belanja sendiri tiap ke swalayan atau pasar (terima kasih atas tote bag-nya, Hijabenka), minggu lalu aku mulai berpikir bahwa bukan hanya sampah plastik besar yang bisa dikurangi, tapi juga plastik-plastik kecil yang biasanya digunakan untuk mewadahi bahan masakan kecil-kecil seperti bawang, cabe, dan sebagainya.

Bukannya kenapa-kenapa: plastik-plastik kecil itu adalah plastik yang paling jarang digunakan. Apalagi jika aku belanja di swalayan: plastik yang digunakan kemungkinan besar tidak akan terpakai karena diselotip “mati” oleh stafnya. Sampai kos, plastik tersebut akhirnya dibuka paksa, entah dengan digunting atau dirobek, sehingga menyebabkan plastik tersebut tidak bisa digunakan kembali.

Maka, sampah plastik lagi.Read More »

[TW] A Quarter Life Crisis, They Said

The obligatory birthday post is finally here!

I… don’t know where to start, just like usual. I think I missed my birthday post last year because of, you know, some stuff with my head. Just like usual.

But, hey. I’m back here, writing another obligatory birthday post. My birthday post usually consists of what I have been through a year before, a kind-of reminder for who I have become today and I think I would write the same thing, just like usual.

I finally turned 25 today—the age I wouldn’t have even imagined when I was 18. I’m a fully adult human being, a grown up and unfortunately those facts don’t make me feel good.

Now that I think of it, when will I feel good every time my birth day comes? It’s just so sad every time I write my birthday post and it turns to be a very emotional and depressing post.Read More »

Harbolnas dan Kejar Setoran

Iseng membuka dashboard hari ini, aku disuguhi dengan satu artikel yang membahas soal demensia dan blogging. Tanpa perlu membaca artikel tersebut pun aku sudah tahu apa yang akan dibahas. Mengingat aku berkali-kali mengeluhkan bagaimana aktivitas menulisku menurun selama beberapa tahun terakhir ini, judul artikel tersebut berhasil memaksaku untuk memulai menulis kembali. Setidaknya menulis bisa membantuku merekam kegiatanku sehari-hari.

Jadi mari mencoba-coba saja menuliskan satu-dua hal remeh dari kegiatan sehari-hari. Misalnya: Harbolnas dan pekerjaan.Read More »

Ajakan Menulis

Tiga bulan setelah aku menulis postingan pertamaku di blog ini, mendadak aku teringat ajakan seorang teman untuk bergabung di sebuah grup kecil-kecilan, berisi para orang-orang yang (sepertinya) masih berusaha untuk rajin menulis. Mungkin ajakan tersebut bisa terdengar sekadar basa-basi, tapi rupa-rupanya berhasil membuatku berpikir cukup lama selama beberapa hari.

Selang dua atau tiga tahun terakhir, aktivitas menulisku memang menurun drastis. Awal nge-blog (2008), aku bisa menulis, setidaknya dua hari sekali. Walau memang masa-masa itu adalah masa di mana aku menulis… yah, hanya sekedar menulis. Curhatan harian: kegiatan di sekolah, pekerjaan, pengalaman liburan, dan hal-hal remeh lainnya. Tapi setidaknya ada bahan yang bisa kutulis karena terinspirasi oleh kegiatan sehari-hari.

Sifatku yang cenderung untuk menarik diri dari dunia luar juga tidak membantu sama sekali. Pekerjaanku yang bisa dikerjakan tanpa aku harus menjejakkan kaki ke luar pagar, membuatku tidak memiliki pengetahuan akan dunia luar. Akupun seperti kehilangan semangat untuk menulis secara “benar”. Berbeda dibandingkan ketika masih aktif di bangku kuliah: aku masih bisa memaksa diriku untuk beraktivitas di luar karena aku bergabung dengan beberapa organisasi dan komunitas. Tapi begitu tanggung jawab itu lepas, aku pun berpikir bahwa akhirnya diriku pun bebas. Begitu aku sudah lepas dari semuanya, aku pun melepaskan diriku dari kegiatan menulis.

Selain itu, aku rasa juga ada hal-hal sensitif lain yang membuatku menahan diri untuk tidak mempublikasikan tulisanku seperti saat masih muda dulu (halah).

Aku tidak bisa bilang aku sudah berhenti menulis secara total. Aku masih menulis, tapi kembali ke media yang lebih konvensional: bolpoin dan sebuah jurnal tebal. Tidak ada maksud apa-apa; aku hanya merasa lebih tenang menulis dengan cara jadul seperti itu. Lagipula, ada kepuasan tersendiri ketika melihat tinta yang kabur karena tetesan-tetesan air, atau melihat coretan bolpoin warna-warni yang digunakan untuk mengoreksi berkas skripsi.

Kembali soal ajakan: sepertinya banyak tulisan-tulisanku di jurnal yang mungkin bisa kupilah untuk dipublikasikan di blogku yang makin sering terlantar. Mungkin aku harus kembali menghubungi temanku tersebut untuk memberitahu bahwa aku… Hmmm… Mungkin aku harus kembali mencoba menulis seperti dulu lagi.