Si Palsu

Laptop-ku baru saja masuk rumah sakit setelah aku bedah sendiri (“Saya penasaran aja, pak, kok laptop saya mengeluarkan bunyi melulu—jadi saya buka dan saya bersihkan, eh malah ga bisa mengembalikan kondisinya seperti semula”). Sistem operasinya dipasang ulang; masih tetap Windows 7, tapi aku mendapatinya berubah menjadi 64 bit dengan MS Office tahun 2010, dan tentu saja kode produknya palsu.

Setelah sembilan tahun, akhirnya aku menggunakan sistem operasi bajakan. Amazing.

 

Batal Cum Laude

Dosen Pembimbing: “IPK-mu berapa, sih?”
Aku: “3.58, Bu.”
Dosen Penguji: “Wah, cum laude, nih.”
Aku: “Anu, Bu. Saya ngga bisa cum laude.”
Dosen Pembimbing: “Lho, kamu kuliah berapa tahun? Empat tahun? Empat setengah?”
Aku: “Saya angkatan 2012—”
Dosen Penguji: “Kamu ngga cuti?”
Aku: “Ngga, Bu. Ini tahun ketujuh saya di kampus, hehe.”

FIB UB Gedung A, R.4.1, 5 Juli 2019

Makan dan Tepuk Tangan

Jadi aku punya kebiasaan untuk bertepuk tangan setelah makan, apalagi jika itu adalah porsi yang berjumlah lumayan. Aku tidak akan selalu melakukan, tapi kadang-kadang tangan bergerak tanpa perlu diingatkan. Malam itu aku menghabiskan makanan temanku yang masih bersisa, karena bagaimanapun aku tidak akan pernah rela membuang makanan begitu saja.

“Habis! Yaaay!” ujarku kelewat ceria, diiringi temanku yang juga kecil tertawa.

Kemudian mataku melirik ke sebelah kiri, yang rupanya ada ibu-ibu yang menatapku sambil tersenyum sendiri. Meja di sebelah kami memang diisi sepasang suami-istri yang sudah tua, mungkin seumur Eyang yang juga sama umurnya.

Aku mengangguk, kemudian tersenyum kikuk.

“Senang ya, setelah makan?”

Aku mengangguk lagi, kemudian menyengir lebar sekali. “Iya, bu. Apalagi saya baru habis hampir dua porsi.”

Beliau tertawa, diikuti suaminya, yang sepertinya terhibur melihat perilaku anak-anak muda di samping mereka.

Foodcourt Malang Town Square, 30 Juni 2019

Mirip Bu Rita

(Sedang di studio foto,  masih dirias dan dipasangkan jilbab)

Aku: “Wuih, aku kelihatan kayak Bu Rita—mantan bupati Kukar yang ditangkap KPK itu, lho.”
Kedua MUA di ruangan langsung terbahak. Salah satunya menimpali: “Ngga gitu juga kali, mbak!”
Aku: “Ya kan Bu Rita sehari-hari make up-nya gini, mbak.”

Malang, 30 Juni 2019

 

Si Makhluk Jelek

Begitu aku memarkir motorku di halaman, aku baru sadar betapa gelapnya gedung tersebut. Mengingatkanku akan teman-teman yang takut akan gelap, ingat bagaimana (menurutku) konyol dan lucunya mereka ketika mereka ketakutan saat listrik padam.

Aku melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Aku kira pintunya terkunci, tapi rupanya tidak. Sensornya mendeteksi kedatanganku dan pintu kaca itu terbuka otomatis. Di saat itulah aku melihat sesuatu yang kelewat jelas untuk dilewatkan dari sudut mataku. Continue reading “Si Makhluk Jelek”

Pria Berukuran Queen

Ditulis 18 Maret 2015, setelah membentangkan sprei putih berukuran queen. Dipublikasikan kembali dengan sedikit suntingan.

Tuhan memiliki banyak tentara pribadi bernama malaikat. Setiap malaikat memiliki tugas masing-masing. Ada yang bertugas berkelana sembari mencabuti jiwa manusia yang sudah saatnya meninggalkan dunia, ada yang sibuk mencatat dosa-dosa, bahkan ada yang sekedar memperhatikan tingkah laku mereka.

Di bumi, ada milyaran manusia yang memanjatkan doa kepada Tuhan. Para malaikat pun diam-diam akan mencatat doa itu, kemudian menyampaikannya kepada Tuhan. Di antara doa-doa tersebut terkadang ada doa menarik terselip, sanggup membuat malaikat memberikan perhatiannya.

Setiap hari, sebelum tidur, gadis ini selalu memanjatkan doa yang sama sembari menengadahkan tangan.

“Tuhan, aku ingin seorang pria yang bisa menjadi pasangan hidupku.” Continue reading “Pria Berukuran Queen”

Less Waste #1: The Dust Bags

Setelah dua tahun belakangan selalu membawa tas belanja sendiri tiap ke swalayan atau pasar (terima kasih atas tote bag-nya, Hijabenka), minggu lalu aku mulai berpikir bahwa bukan hanya sampah plastik besar yang bisa dikurangi, tapi juga plastik-plastik kecil yang biasanya digunakan untuk mewadahi bahan masakan kecil-kecil seperti bawang, cabe, dan sebagainya.

Bukannya kenapa-kenapa: plastik-plastik kecil itu adalah plastik yang paling jarang digunakan. Apalagi jika aku belanja di swalayan: plastik yang digunakan kemungkinan besar tidak akan terpakai karena diselotip “mati” oleh stafnya. Sampai kos, plastik tersebut akhirnya dibuka paksa, entah dengan digunting atau dirobek, sehingga menyebabkan plastik tersebut tidak bisa digunakan kembali.

Maka, sampah plastik lagi. Continue reading “Less Waste #1: The Dust Bags”

Dreams and Weapon

thriller, fantasy, a part of my dream from today’s nap. trigger warning for some kind of brutality. language shift ENG – IDN, idk what i was thinking. no editing/proofreading. please be advised that there could be typos and grammar errors.

Pintu didobrak, keras sekali.

Perintah dikeluarkan, suara bersahut-sahutan menyampaikan perintah ke mereka yang berada di belakang, tiga dari kami melangkahi pintu yang sudah rubuh. Continue reading “Dreams and Weapon”

[TW] A Quarter Life Crisis, They Said

The obligatory birthday post is finally here!

I… don’t know where to start, just like usual. I think I missed my birthday post last year because of, you know, some stuff with my head. Just like usual.

But, hey. I’m back here, writing another obligatory birthday post. My birthday post usually consists of what I have been through a year before, a kind-of reminder for who I have become today and I think I would write the same thing, just like usual.

I finally turned 25 today—the age I wouldn’t have even imagined when I was 18. I’m a fully adult human being, a grown up and unfortunately those facts don’t make me feel good.

Now that I think of it, when will I feel good every time my birth day comes? It’s just so sad every time I write my birthday post and it turns to be a very emotional and depressing post. Continue reading “[TW] A Quarter Life Crisis, They Said”

Harbolnas dan Kejar Setoran

Iseng membuka dashboard hari ini, aku disuguhi dengan satu artikel yang membahas soal demensia dan blogging. Tanpa perlu membaca artikel tersebut pun aku sudah tahu apa yang akan dibahas. Mengingat aku berkali-kali mengeluhkan bagaimana aktivitas menulisku menurun selama beberapa tahun terakhir ini, judul artikel tersebut berhasil memaksaku untuk memulai menulis kembali. Setidaknya menulis bisa membantuku merekam kegiatanku sehari-hari.

Jadi mari mencoba-coba saja menuliskan satu-dua hal remeh dari kegiatan sehari-hari. Misalnya: Harbolnas dan pekerjaan. Continue reading “Harbolnas dan Kejar Setoran”